Wisata Edukasi Perpustakaan Balikpapan, Tanamkan Cinta Membaca Sejak Usia Dini

Dinas Perpustakaan dan Arsip (Disputakar) Kota Balikpapan lewat program Wisata Edukasi, yang secara rutin menghadirkan ratusan siswa PAUD dan SD berkunjung ke perpustakaan. / Smartrt / Sudarman
Smartrt.news, BALIKPAPAN – Membangun kebiasaan membaca bukan hanya soal menyediakan buku, melainkan juga menciptakan pengalaman menyenangkan yang melekat di ingatan anak-anak.
Inilah pendekatan yang dilakukan Dinas Perpustakaan dan Arsip (Disputakar) Kota Balikpapan lewat program Wisata Edukasi, yang secara rutin menghadirkan ratusan siswa PAUD dan SD berkunjung ke perpustakaan.
Program ini dirancang sebagai langkah awal membentuk generasi pembelajar. Anak-anak tidak sekadar diajak mengenal buku, tetapi juga berpetualang di dunia literasi melalui aktivitas interaktif dan ceria.
Mulai dari mendengarkan dongeng sarat pesan moral, mengenal berbagai jenis buku sesuai minat dan usia, hingga belajar tentang nilai-nilai karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa ingin tahu. Semua dikemas dengan pendekatan yang sesuai dengan dunia anak.
“Kami ingin mereka bukan hanya mengenal buku, tapi juga merasakan bahwa membaca itu menyenangkan. Itulah mengapa setiap kegiatan dirancang dengan nuansa bermain yang edukatif,” ujar Kartini, Kepala Bidang Perpustakaan Disputakar, Jumat (22/8/2025).
Antusiasme Tinggi dari Anak dan Sekolah
Program Wisata Edukasi ini mendapat sambutan positif dari sekolah-sekolah. Dalam sehari, perpustakaan bisa menerima kunjungan dari tiga hingga empat sekolah sekaligus, dengan jumlah anak mencapai 300 orang.
Suasana perpustakaan pun berubah menjadi ruang interaksi yang hidup, penuh tawa, dan semangat belajar. Anak-anak berlarian kecil mencari buku bergambar, menyimak dongeng dengan mata berbinar, atau duduk bersama teman sambil membolak-balik halaman penuh warna.
“Setiap kali ada kunjungan, energi perpustakaan ikut berbeda. Rasanya seperti rumah literasi yang riuh dengan rasa ingin tahu anak-anak,” tutur Kartini.
Agar program bisa menjangkau lebih banyak anak usia dini, Disputakar menggandeng berbagai lembaga pendidikan, seperti IGRA (Ikatan Guru Raudhatul Athfal), Himpaudi (Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia), serta GCKI (Gabungan Cendekiawan Katolik Indonesia).
Kolaborasi ini memastikan jadwal kunjungan bisa tersusun rapi dan mampu menjangkau berbagai kelompok usia secara merata. Bagi sekolah, kegiatan ini menjadi pengalaman belajar di luar kelas yang tak hanya menghibur, tetapi juga mendidik.
Dongeng sebagai Sarana Belajar
Salah satu momen yang paling ditunggu anak-anak adalah sesi mendengarkan dongeng. Untuk itu, Disputakar kerap menghadirkan pendongeng profesional yang mampu membawakan kisah inspiratif dengan gaya penuh imajinasi.
Lewat dongeng, anak-anak diajak berpikir, merasakan, dan mengambil hikmah. “Dongeng bukan hanya hiburan, tapi sarana belajar yang efektif. Anak-anak bisa menyerap pesan baik dengan cara yang ringan, tapi membekas dalam ingatan mereka,” jelas Kartini.
Disputakar meyakini, mengenalkan buku di usia dini adalah investasi jangka panjang. Semakin awal anak mencintai buku, semakin terbuka pula jalan mereka untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.
“Budaya membaca tidak bisa dibentuk sekejap. Tapi jika ditanam sejak kecil, ia akan tumbuh menjadi bagian dari karakter. Harapan besar kami, anak-anak Balikpapan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan haus pengetahuan,” kata Kartini menutup.
Dengan program ini, perpustakaan tidak lagi sekadar ruang sunyi penuh rak buku, tetapi menjelma menjadi destinasi wisata edukasi yang menanamkan nilai kehidupan sekaligus membuka jendela masa depan