Category Ad 1

Kapasitas TPA Manggar Kian Terbatas, Balikpapan Bangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu

Oleh kontributor Sudarman pada 23 Agu 2025, 10:23 WIB

Rancangan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Balikpapan / Smartrt / Sudarman

Smartrt.news, BALIKPAPAN– Pemerintah Kota Balikpapan terus mengintensifkan langkah-langkah strategis dalam mengatasi persoalan sampah yang semakin kompleks. Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) kini menjadi salah satu fokus utama.

Fasilitas tersebut diharapkan mampu memperkuat sistem pengelolaan sampah perkotaan sekaligus mendorong pencapaian target pengurangan sampah 50 persen sebagaimana arahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Kepala DLH Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, mengungkapkan bahwa saat ini capaian pengurangan sampah di Balikpapan baru menyentuh angka 30 persen.

Masih ada selisih 20 persen yang harus segera dikejar agar target nasional bisa tercapai. Menurutnya, pembangunan TPST akan menjadi salah satu solusi utama untuk mempercepat capaian tersebut.

“Tahun ini, satu TPST di kawasan Kota Hijau, Gunung Guntur, segera beroperasi. Sementara pada tahun depan, tiga TPST baru akan dibangun di Graha Indah, Telagasari, dan Kilometer 12. Semuanya dirancang untuk mendukung pengolahan sampah berbasis 3R (reduce, reuse, recycle),” jelas Sudirman.

TPA Manggar Kian Penuh

Balikpapan selama ini sangat bergantung pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggar sebagai lokasi penampungan sampah. Namun, volume sampah yang terus meningkat setiap tahunnya membuat kapasitas TPA semakin terbatas.

Dengan rata-rata produksi sampah kota mencapai 650 ton per hari, TPA Manggar kini berada dalam kondisi rawan penuh jika tidak segera diimbangi dengan sistem pengolahan yang memadai. “Kalau hanya mengandalkan TPA, umur fungsinya tidak akan panjang. Karena itu, TPST dan bank sampah menjadi kunci,” tambah Sudirman.

Selain TPST, DLH juga mendorong penguatan bank sampah di tingkat kelurahan dan kecamatan. Hingga saat ini, Balikpapan baru memiliki 106 unit bank sampah aktif.

Padahal, kebutuhan ideal mencapai 210 unit agar setiap kelurahan bisa memiliki enam bank sampah, ditambah enam unit induk di tingkat kecamatan.

“Bank sampah bukan hanya membantu mengurangi volume sampah, tapi juga memberi nilai ekonomi. Warga bisa menabung dari hasil memilah sampah plastik, kertas, hingga logam. Jadi ada keuntungan ganda, lingkungan bersih dan ekonomi keluarga terbantu,” ujarnya.

Kunci di Tangan Masyarakat

Namun, Sudirman menegaskan bahwa secanggih apa pun fasilitas TPST dan sebanyak apa pun bank sampah yang dibangun, keberhasilan pengelolaan sampah tetap kembali pada kesadaran masyarakat.

“Yang paling berperan sebenarnya RT dan kelurahan. Sampah harus terpilah sejak dari rumah. Kalau masyarakat disiplin memilah, maka yang masuk ke TPA bisa berkurang drastis,” tegasnya.

Ia pun mengajak camat, lurah, dan tokoh masyarakat untuk aktif mendorong partisipasi warga. Bahkan, menurutnya, dukungan penyediaan lahan dan fasilitas pendukung bisa datang dari berbagai sumber, mulai dari APBD, CSR perusahaan, hingga swadaya masyarakat.

Harapan Menuju Kota Hijau

Balikpapan sendiri sudah sejak lama dikenal sebagai kota dengan komitmen lingkungan yang tinggi. Sejumlah penghargaan Adipura berhasil diraih berkat kerja sama pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kebersihan.

Namun, tantangan pengelolaan sampah ke depan akan semakin berat seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi.

“Kalau masyarakat aktif memilah dan memanfaatkan bank sampah, target pengurangan 50 persen bisa segera tercapai. Pada akhirnya, ini bukan hanya soal memenuhi target, tetapi juga menjaga kualitas hidup dan lingkungan kota Balikpapan,” pungkas Sudirman.

Tinggalkan Komentar